Tampilkan postingan dengan label Kolom Miranda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Miranda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Agustus 2010

Mendekati Nol

Seorang skeptisis pernah bertanya kepada saya, apa makna beragama. Tentu saya tidak mungkin menjawabnya dengan sederet argumen perbandingan agama, karena hal itu bukan ilmu sekolahan saya. Maka, meniru para spiritualis romantis, saya menjawab "Karena saya merindukan Tuhan." Akan tetapi, ternyata jawaban itu masih lemah. Tuhan itu siapa? Kenalkah kamu kepada-Nya? Kenal saja belum kok sudah sok rindu.


Ketika saya jawab lagi bahwa saya mengenal Tuhan dari kitab yang diturunkan-Nya melalui utusan-utusan-Nya, pernyataan itu pun masih bisa dipertanyakan lagi. Bukankah itu kitab, bukan Tuhan sendiri? Dan utusan-utusan-Nya. Bukankah mereka masih manusia, bukan Dia sendiri? Dia itu siapa, mana? Jika tanya-jawab ini diteruskan dengan melibatkan seluruh kesadaran dan perasaan, mungkin saya sudah masuk daftar tunggu psikiater untuk mendapat resep antidepresan.


Maka, jawabannya hanya tinggal: untuk menjadi tiada, meniada. Tetapi, meniada itu bagaimana?


Meniada memang bisa bermakna macam-macam. Orang-orang Indonesia yang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk berjihad membantu sesama muslim Palestina yang tengah dihujani bom Israel di Jalur Gaza, mungkin saja bisa berdalih bahwa mereka pun ingin meniada. Padahal, masih ada nilai yang mereka kejar misalnya menjadi syuhada, itu pun dalam kerangka tafsiran tertentu saja. Saya hampir yakin, masih menggelegak kemarahan moral di benak mereka, kemarahan yang meskipun amat heroik dan bisa mengharukan, tetapi tetap satu kemarahan. Padahal, meniada konon justru memenangkan proses jihad terbesar dahulu, yang medannya tidak di mana-mana, tetapi di dalam benak setiap manusia sendiri. Mendekati nol. Menjadi nol. Perang itu terjadi setiap hari. Setiap saat. Dan ini mengisyaratkan "kekerasan" syarat berjihad yang terlalu sering diabaikan bahwa sebelum seseorang berjihad, seharusnya orang itu telah menemukan keterampilan untuk mendekati titik nol itu dahulu di dalam dirinya. Dengan demikian, jika pun harus berjihad ke luar, ia tidak akan menembak ke arah yang salah karena silap oleh murka.


Bukankah jihad sebetulnya adalah konsep yang cerdas dan berwibawa? Cerdas, karena jihad tidak harus melulu berarti semangat heroik untuk begitu saja terjun ke arena konflik lantas saling bunuh dan balas dendam, tetapi justru berupaya maksimal untuk melindungi kehidupan agar dapat terus bertahan dan berkembang. Sejarah pun telah mencatat jihad yang berwibawa dari Ali bin Abi Thalib. Dalam satu peperangan, Ali tidak jadi membunuh seorang musuh yang lehernya sudah dalam jangkauan pedangnya, hanya karena musuhnya itu tiba-tiba meludahinya dan memancing gelegak kemarahannya. Ali berperang karena Allah, bukan karena marah.


Apa pun itu, bagi saya meniada jauh sekali artinya dari semangat menghambur terjun ke laut berenang sampai ke Jalur Gaza demi turut menyelamatkan Palestina, hanya untuk menemukan bahwa orang-orang Palestina ternyata tidak butuh tenaga untuk memperpanjang perang. Meniada, mendekati nol, tidak impulsif seperti itu.


"Nol" bukan tidak ada. Ia ada. Orang bersekolah, bekerja, dan menabung untuk membangun nilai melebihi nol. Akan tetapi, sang arif bersujud, berdoa atau meditasi untuk kembali kepada nol. Saya ingat ketika seorang sufi berkata, "Setiap kali sujud, semua luka dan pedih lenyap. Hilang. Tidak ada." Dan air mukanya bersinar sejernih sisa air wudu yang masih menetes di dagunya. Kepadanya tentu tak layak lagi untuk ditanya, kebahagiaan itu apa. Kebahagiaan? Demikianlah. Dan kebahagiaan itu mengemuka justru pada titik terjauh dari sikap seseorang, yang merasa layak mendongak di atas semua miliknya.


Dalam duka spiritualnya sufi besar Jalaludin Rumi berkata tentang proses Meniada:
" ... dalam berbuat baik dan membantu orang lain, jadilah seperti sungai.
Dalam bersimpati dan berlaku anggun, jadilah seperti matahari.
Dalam menutupi kesalahan orang lain, jadilah seperti malam.
Dalam kemarahan, jadilah seperti mati.
Dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, jadilah seperti bumi.
Dalam bertenggang-rasa, jadilah seperti samudra ...."


Setelah semua itu, apa yang tersisa? Mungkin hakikatnya memang, tidak ada apa-apa lagi, selain Ia Yang Maha Esa dan Maha Hadir di balik semua ciptaan-Nya. Jika bertahan hidup memang tidak mudah dan mempertahankan ego sakitnya masya Allah, mungkin di dalam kesadaran bersama-Nya, sesungguhnya, tidak ada lagi "aku" yang perlu dipertahankan. Rumi mungkin hendak berkata, semua sirna kecuali Dia. Bersandar saja kepada-Nya. Tak usah bertanya, terima saja. Tak usah sibuk menoleh ke kanan kiri, diam saja. Dalam hening itu, Ia ada, bukan?


Mendekati nol. Mudah mengatakannya. Berdarah-darah mencapainya. ***

Selasa, 09 Februari 2010

Jika Tuhan sedang bergurau

Anda sedang jatuh cinta? Selamat. Mungkin, dedaunan tiba-tiba lebih hijau dari biasanya. Atau, tanpa sadar, diri anda menjadi lebih bersinar. Jatuh cinta yang baik, kabarnya, membuat seseorang menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, bahkan juga, lebih pengasih, lebih mudah memaafkan, dan lebih tegar menghadapi masalah. Seorang mahasiswi yang tengah jatuh cinta bahkan pernah merasa bahwa pepohonan rimbun menuju kampusnya, yang ia lewati belasan kali dalam seminggu, dengan motor, kepadatan jadwal, dan kebisuan yang sama, tiba-tiba mengirimkan tasbih, yang bergemuruh bersama desir angin.

Dalam perpektif positif, cinta, seperti pesan yang tersirat dalam doa agung sang rasul ketika akan menikahkan putri kesayangannya, mengumpulkan semua yang berserak diantara dua subjek. Cinta menawarkan totalitas. Maka, dunia yang pernuh warna bisa tiba-tiba menjadi jingga semua.
Indah bukan?


Tetapi, dalam perspektif yang sebaliknya, cinta meniadakan warna lainnya. Ia menghanyutkan, menginfeksi kulit hingga saluran pernapasan, sampai ke ujung-ujung rambut yang tidak bersaraf.

Ia membohongi kesadaran bahwa dunia itu hanya satu warna. Bagaimana jika suatu saat orang yang paling dicintai itu berubah menjadi orang yang paling dibenci? Atau, bagaimana jika tiba-tiba, orang yang paling dicintai itu mati? Bukankah kesiapan untuk sungguh-sungguh mencintai juga mensyaratkan kesiapan implisit untuk, suatu saat, sungguh-sungguh kehilangan?

Cinta, seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, bukankah juga ‘cuma’ sebuah amanah yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu, kapan saja Dia mau?

Lucunya, Tuhan telah lama mengajak manusia bercanda. diciptakanNya pasangan yang membuat tentram dalam diri manusia yang lain, hingga mau tidak mau, suka tidak suka, setiap manusia cenderung akan mencari belahan dirinya yang lain. Padahal, tidak pernah ada data objektif yang menyatakan bahwa ada dua manusia yang bersama-sama dan berbahagia selama-lamanya.

Sayangnya, Tuhan adalah Lex Devina yang tidak bisa diprotes. Lagi pula, agaknya indah jika seorang manusia mau menanggapi candanya, hingga nanti, di perjumpaan terakhir, Ia tidak murka, tetapi tersenyum dengan agung-Nya.

Untuk niat ini, tampaknya, ada tiga cara spiritual yang bisa ditempuh. Pertama, secara sadar, menolak cinta. Arti paling harfiah dari cara ini, tentu adalah tidak mau jatuh cinta, atau secara ekstrem, tidak percaya dengan lembaga perkawinan. Tetapi cara ini terlalu radikal dan serius hingga Tuhan tidak suka.

Kedua, mencintai dengan rasional. Karenanya, ada janji talak dalam surat kawin hingga perjanjian pembagian harta sebelum menikah. Yang paling ekstrem, seorang mencintai dengan perhitungan yang amat rasional, yakni dari bibit, bebet dan bobotnya. Cara ini pasti tidak akan membuatNya murka, tetapi entah ada dimana senyumNya.

Cara ketiga, menjadi pencinta sesungguhnya. Jika Tuhan bertanya, apakah anda jatuh cinta, katakan saja ya,, tetapi itu hanya karena itu satu-satunya cara untuk menghikmati kehadiranNya. Jika Tuhan menyuruh, menikahlah, katakan saja ya, tetapi itu hanya dilakukan karena tidak ada seorangpun yang sanggup menentangNya. Dan jika Tuhan bertanya lagi, sudahkah merasakan cinta yang sesungguhnya, katakan saja ya, tetapi itu hanya senda gurau saja karena hanya kehadiranNya yang mengabadikan semuanya. Jika Tuhan bertanya, mabuk cintakah? Katakan saja ya, tetapi segeralah juga minta agar yang tertuang adalah kebenaranNya.

teruslah mengukir tasbihmu Mbak Mir...sayang ya pojok-kayanakan.net expired hostingnya.

Selasa, 16 September 2008

BERSENDIRI

Suatu malam, dalam dialog imajinernya,

seorang murid menyatakan kepada gurunya, bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial feminitasnya.

Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya…….
dengan pepohonan, jalanan dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri.
Bukan, ia bukan tidak punya kawan.
Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun.
Tetapi yang tidak dimilikinya hanya satu…….pasangan hati.

Ketika itu, dalam sebuah perjalanan, ia juga telah menemukan sebuah mesjid yang teguh, teduh dan begitu menarik untuk persujudan kejerian hatinya,……tetapi ia kemudian tersadar….bahwa masjid itu terlalu suci baginya. Ia sedang datang bulan.
Dan ditemukannya dirinya terhenyak di tepi jalan yang kosong, dengan darah yang keluar dari dinding-dinding hatinya yang berguncang, yang pelan tapi pasti, rata dengan tanah.

Takut menghujat Tuhan, sempat juga ia sampai pada puncak kemarahannya, yang berbalik dalam sepersekian detik menjadi permohonan ampun yang mendalam, bagi keteguhan imannya yang kemudian disadarinya telah runyam.

Ia memang perempuan. Luar dalam.
Sulitnya, Ia tidak punya lagi cukup keberanian dan tenaga untuk menolak kenyataan.
Beginilah titik nadir feminitas perempuan itu, bias dijabarkan dengan serangkaian kenyataan internal yang paradoksal.

Ia ingin tertawa tetapi hatinya pedih.
Ia ingin menyelesaikan kepedihannya……tetapi ia tidak ingin kepedihannya memedihkan orang lain.
Ia ingin berdialog, tetapi yang bisa menjawab hanya air yang keluar dari matanya sendiri.
Ia ingin dikuatkan oleh Tuhan, tetapi ia pikir kesucian menolaknya……
Dan ia menemukan dirinya menjadi lemah dibawah lemah.

Dan dialog itu pun terjadi :
“Jika saya tertawa, saya tahu itu adalah pemberian bagi lingkungan, tetapi juga kebohongan bagi kenyataan internal saya. Sungguh ingin saya temukan orang tempat saya bias mencurahkan kejerian hati saya dengan jujur. Anehnya, sapaan-sapaan simpati yang saya terima membentur dinding hati.
Sebaliknya, hati saya merindukan dialog yang ternyata monolog.
Keriuhan internal ini membuat saya capai.
Jadi bagaimana, ya Mursyid ?”
“Bersendiri. Bukan menyendiri, tetapi bersendiri,” tegas gurunya.
“Wakilkan seluruh derita kepada Tuhan.
Serahkan kepadaNYA.
Ketika tidak ada lagi dinding yang kuat untuk bersandar, Tuhan itu cukup”
Jadi kesimpulannya, ia tidak boleh dan memang tidak mungkin lagi berkeinginan.

Bersendiri, menurut An-Nifari yang dibahaskan kembali oleh Muhammad Zuhri, adalah kenyataan yang berbeda dengan menyendiri, kerena bersendiri adalah kenyataan internal yang ditemukan. Ketika itu, kata-kata tidak bisa lagi memecahkan apapun. Airmata apalagi, yang menjadi kering bersamaan dengan habisnya tenaga untuk menangis.

Ketika itu, hati memang minta diistirahatkan dalam pelukan keabadian, yakni ALLAH sendiri.
Biarkan ALLAH saja yang menjadi kekuatan, menjadi sisi “maskulin” yang menggenapkan. Dan itu yang ingin saya lakukan sekarang.
ALLAHU ROBBUL IZZATI, ALLAHU ROBBANA, ALLAHU MALIKI, ALLAHU AKBAR……………………

by. Miranda Risang Ayu

Rabu, 10 September 2008

Mencari Senyum Tuhan

Menjadi murid kehidupan dengan membuka mata kesadaran. Itulan pesan Miranda. Dengan begitu, tak ada peristiwa terlewat sia-sia. Setiap langkah pasti penuh hikmah. Semesta suka dan duka mengantarkan kita pada Sang Nyata. Adakah detik berlalu tanpa belai kasih sayang-Nya?
Konon, sekali seorang muslim berniat untuk menemukan makna abadi dari hidupnya yang sementara di muka bumi, semesta akan membukakan jalan. Ketika seorang muslim menjawab kerinduan ilahiah yang terbit dalam hatinya sebagai panggilan untuk memulai perjalanan mendekatkan diri kepada Allah, Yang Awal dan Yang Akhir, maka perjalanan pun dimulai. Artinya, sekali melangkah, tidak ada kata mudur. Jika ia lengah, Allah akan mengingatkan. Jika ia berpaling, Allah akan meluruskan. Jika ia jatuh, Allah akan menegakkan, Indah kedengarannya, bukan?
Tetapi, peringatan Allah hadir dalam berbagai cara. Ia bisa juga berwujud kesulitan, penolakan, atau kegagalan. Dia juga hadir sebagai Sang Maha Pemberi pelajaran. Intinya, Tuhan itu Ada. Begitu Dekat. Dia tak pernah membiarkan pencari-Nya sunyi sendiri. (Disarikan dari tulisan Miranda Risang Ayu)

Karunia Ramadhan Demi Kemanusiaan

Ramadan. Pada bulan suci ini, bagi umat Islam yang berusaha taat beribadah, terjadi pembalikan. Di saat makan dan minum biasanya menjadi keharusan, ia diharamkan. Di saat tidur menjadi kebutuhan, terjaga dan sembahyang amat dianjurkan. Bahkan, hubungan suami istri yang bernilai ibadah sepanjang waktu, menjadi terlarang pada sebagian hari.
Manusia itu pelupa. Ia lupa pernah berhadapan dengan Sang Pencipta sebelum lahir ke dunia, hingga derita kesadarannya sepanjang hidup menjadi seperti harga yang harus dibayar untuk menggapai kembali ingatan terhadap janji kudus itu, yakni untuk mengesakan-Nya saja. Manusia pun lupa bahwa dalam dirinya telah ditiupkan Ruh-Nya, sehingga bersama Tuhan, ia bisa mengontrol dirinya, sehingga kalau saat kehancuran yang alamiah itu datang, ada yang tetap, yang tidak hancur, yang kembali kepada Yang Abadi. Payahnya untuk hal-hal ini, lupanya nyaris absolut. Mungkin, dalam Ramadhan, manusia kembali ingat.
Janji-Nya itu, bahwa tanda-tanda-Nya tidak hanya tertera dalam Kitab Suci dan ufuk cakrawala, tetapi juga di kedalaman diri, di mana itu ya? Mungkin ia tertimbun jauh di bawah hal-hal sumir seperti kenikmatan makan dan minum, kenikmatan seksual, dan kenikmatan-kenikmatan fatamorgana lainnya, yang sudah dipenuhi kerak dan lumut dalam kesadaran. Mungkin bulan suci bisa menjadi saat menjernihkan kesadaran dan hati. Kalau pun rasa jernih itu sudah lama terlupa, semoga bisa teraba lagi dia, setelah keramaian di perut, hati dan kepala, dibuat reda sesaat. Detoksifikasi, kata ahli kesehatan. Minimalisasi, kata ahli filsafat. Relaksasi dan purifikasi, kata ahli jiwa.
Atau, sederhana saja sebetulnya. Dalam Ramadan, paling tidak, manusia bisa menjadi seperti rumput yang hijau karena rumput memang hijau, menjadi seperti langit yang biru karena langit memang biru, menjadi seperti angin yang lembut karena angin memang jarang ribut, atau menjadi seperti cadas yang diam perkasa karena memang begitulah cadas sejak dulu kala. Dalam Ramadan, manusia berkesempatan menjadi manusia yang suci, karena fitrah manusia memang suci. Simpel saja.
Simpel namun sulit. Sulit tetapi indah. Apalagi jika kita berpuasa dan menemukan indahnya dahaga kepada kesucian. Lantas kita terpesona. Bisa ya, puasa fisik menghasilkan dahaga batin, dan dahaga itu indah? I thought it would be on the way around, saya kira akan sebaliknya!
Ramadan di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia atau Malaysia, sudah tentu ramai. Meski susah mencari kesederhanaan di tengah-tengah baju-baju Lebaran yang memenuhi pertokoan, mencari ketenangan di tengah bisingnya macet kendaraan menjelang saat berbuka, atau meredakan jantung yang seperti akan turut meloncat keluar setiap melihat harga barang di pasar atau tiket kendaraan lintas kota yang melonjak semua, semua itu adalah wujud antusiasme penduduk menyambut Ramadan dan Lebaran. Itu adalah budaya yang menghangatkan Ramadan, hingga berkahnya bisa dinikmati sebanyak mungkin orang. Ada libur Lebaran. Bahkan ada sekolah-sekolah yang meliburkan diri selama Bulan Suci dan mewajibkan murid-muridnya untuk mengikuti Pesantren Kilat. Televisi dan radio pun berlomba menyiarkan acara unggulan paket Ramadan dan Lebaran. Ramai dan bahkan agak bising, tetapi kehangatan itu perlu.
Tidak ada yang salah dari Australia, tempat saya menetap sementara ini. Seperti negara-negara maju lainnya, ia sedang berusaha menjadi negara multikultur yang baik. Konon, negara ini menjadi negara migran kedua terbesar di dunia, dan di bawah Undang-Undang Antirasdiskriminasi, orang kulit putih, kuning, sawo matang, cokelat tua, hingga hitam-legam, lalu-lalang hampir di setiap pusat perbelanjaan. Mereka semua sudah menerima sertifikat warganegara Australia tetapi masih tetap akrab dalam kebudayaan dan agama asal.
Maka, berdirilah masjid-masjid indah di daerah kantung-kantung budaya Turki dan Arab. Tempat wudunya bahkan dilengkapi kursi-kursi permanen berkilap, air panas dan dingin, sabun cair, gelondongan handuk kertas, dan mesin pengering tangan. Seorang perempuan Australia yang putih kulit, rambut, dan saya rasa juga, hatinya - kendati adiknya masih tinggal di benua nenek-moyangnya di Eropa dan ia berpandangan bahwa “Tuhan” itu tergantung anggapan seseorang – mempresentasikan hasil riset S3-nya yang menarik. Di salah satu negara bagian Australia, ternyata ada masjid yang telah didirikan oleh migran Afghanistan 100 tahun yang lalu. Dengan senyumnya yang juga putih, dia berargumentasi, bahwa kehadiran berbagai macam orang, termasuk orang-orang Afghanistan yang Islamis itu, sudah lebih lama dari anggapan umum, dan mereka tidak melemahkan, tetapi sebaliknya, memperkaya dan memperkuat budaya Australia kontemporer. Kini, penghormatan bagi perempuan muslim pun makin nyaring disuarakan oleh beberapa akademisi yang bukan hanya muslim, di seminar maupun konferensi.
Tetapi, ketenangan memang harus amat utama. Adzan dikumandangkan di dalam mesjid, tetapi tidak lewat pengeras suara, seperti juga tidak ada pengeras suara yang bisa dipakai untuk memperluas jangkauan suara dari dalam gereja, sinagog, pura, atau tempat ibadat lainnya. Cuti Lebaran tentu boleh diminta, tetapi tidak ada libur nasional. Karena waktu kerja, sekolah dan libur diberlakukan sama setiap tahun menurut kalender masehi yang berbeda dengan kalender hijriah, ujian yang kebetulan diadakan di bulan puasa atau bahkan di siang hari setelah salat Id, kadang terjadi. Bahkan jujur saja, saya masih berdoa semoga menjelang hari raya Idul Fitri kali ini tidak ada media Australia lagi yang menyiarkan kontroversi hubungan antara umat Islam dan terorisme seperti yang terjadi tahun lalu, ketika bom London masih hangat.
Terasing? Demikianlah. Orang yang menjadi minoritas Islam di negara asing, tampaknya harus terasing dua kali. Ketidaktahuan dan ketidakmengertian itu seperti ikan mati. Amat dingin rasanya.
Tetapi, bukankah keterasingan juga merupakan pembalikan dari keinginan untuk selalu diterima, dimengerti dan bahkan dikagumi? Lagi pula, ia bukan sesuatu yang sengaja diciptakan atau mudah saja dihilangkan. Ia ada, terus mengikuti, seperti bayang-bayang sepanjang badan. Maka, seperti godaan lapar di siang hari bulan suci, mungkin godaan yang musti dikekang adalah godaan untuk mengenyahkan keterasingan itu, baik dengan cara mempertaruhkan keimanan hingga seakan-akan manusia mungkin selamat tanpa Allah sebagai sandaran, atau sebaliknya, membanggakan diri sebagai bagian minoritas elit pilihan Tuhan.
Tuhan Maha Berkehendak. Adalah terlalu berani jika seseorang sampai merasa tahu betul semua Kehendak-Nya. Kemahakasihsayangan-Nya menjamin bahwa Ia adalah hak semua orang. Adalah menyakitkan jika sekelompok orang sampai merasa bahwa Tuhan pasti menyayangi mereka lebih dari yang lain. Kemahaadilan-Nya adalah sebuah rahasia yang melampaui waktu. Jadi membingungkan jika sampai ada yang merasa layak untuk mengklaim secara apriori bahwa Neraca-Nya ada di tangannya saja.
Singkatnya, di penghujung bulan suci ini, di penghujung segala pembalikan, mampukah teringat Tuhan dengan sebaik mungkin? Mungkinkah teringat janji manusia di hadapan-Nya, dengan sepenuh diri? Mungkinkah terbuka kesadaran seorang manusia, bahwa semua ciptaan-Nya adalah tanda-tanda-Nya yang harus dijumpai dan disapa dengan takzim dan hormat? Mungkinkah ditemukan, kerendahatian itu?
Setelah bulan suci ini, saya ingin menjadi manusia, seadanya saja. Kompetensi di bidang ilmu agama, kompetensi di bidang kompleksitas filsafat, tidak punya saya. Saya hanya tahu bahwa Tuhan telah menyempurnakan Islam sebagai agama untuk manusia, dan mengutus para nabi hingga Rasulullah yang juga manusia. Karenanya, jika saya harus beramal dengan Nama-Nya dan demi Islam yang diridai-Nya, saya berharap Ia memperkenankan saya untuk berkata dan bertindak, demi kemanusiaan yang saya kenal.
Dan kemanusiaan yang saya kenal adalah kemanusiaan yang menyukai kedamaian dan pertumbuhan ke arah yang lebih baik, sebagai syarat tegaknya kebenaran. Ia tidak suka disakiti, dijahili atau diperlakukan semena-mena. Ia menemukan kebahagiaan sejati dalam cinta, ketulusan dan ampunan, dan bukan kebencian, prasangka dan dendam. Ia hanya sanggup terasing, jika Allah sudi mengampuni, melindungi dan menjadi Pendamping. Kemanusiaan yang saya kenal, adalah kemanusiaan seorang ibu biasa, yang rendah hati.
Kemanusiaan yang saya kenal itu Anda kenal juga bukan? Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga hadir kejernihan yang sejati.[Disarikan dari tulisan Miranda Risang Ayu/Penulis buku : Mencari Senyum Tuhan]

Template is modificated by Trisnadi from ": kendhin x-template.blogspot.com