Si Sulung dan Si Tengah sedang minum teh. Bertelekan di atas lantai, sambil nonton televisi. Saya sedang mencuci piring, berjarak sekitar lima meter dari mereka. Kemudian terdengar Si Tengah memanggil. Tangannya terjulur memegang gelasnya, dan dia bilang, "Tehnya sudah habis." Maksudnya mungkin, ingin tambah teh atau dia tak memerlukan lagi gelasnya, dan ingin saya mengambilnya untuk saya cuci.
"Dek, dek..., itu tidak baik. Kamu lihat Mama sedang mencuci piring. Sana bawa sendiri gelasnya," kata si Sulung.
Ungkapan sederhana Si Sulung itu membuat saya banyak berpikir. Terdengar lumayan dewasa. Menyenangkan. Sementara ketika saya membuang kotoran sampah makanan, saya melihat di tong sampah ada beberapa tusukan sate yang sudah dipatahkan (namun tetap bersambung), dan satu minuman kardus yang sudah dilipat pipih.
Si Sulung. Saya tahu dia yang membuang tusukan sate dan kotak minuman itu.
Di sekolahnya, anak-anak diajar bagaimana adab membuang sampah. Tusukan sate mesti dipatahkan (tak sampai putus), agar tak mudah menusuk sesuatu. Bisakah Anda membayangkannya, dan jadi mengerti? Tusukan sate, bila dibuang begitu saja, konstruksinya masih cukup kuat untuk melubangi kantong sampah, bahkan mungkin menusuk bagian tubuh manusia. Tapi kalau sudah dipatahkan, akan jauh berkurang kekuatan konstruksinya.
Kotak susu, kalau dilipat dan dipipihkan, membuat volumenya jauh lebih kecil. Tujuannya, membantu tugas pengangkut sampah, agar mobil pengangkut tak penuh dengan ruang-ruang udara yang terperangkap dalam kotak-kotak yang sebenarnya sudah kosong namun tak dipipihkan.
Hal-hal seperti di atas ditanamkan dalam jiwa dan mental anak-anak di SD Jepang.
Saya melihatnya sebagai bentuk pendidikan membuat anak mau peduli akan efek-efek negatif perbuatan mereka. Secara tidak langsung, juga mendidik anak mau peduli dengan keadaan orang lain yang mungkin terkena dampak buruk perbuatan mereka.
Saya tidak tahu, saya berusaha mengingat-ingat pelajaran saya waktu SD. Yang teringat cuma jangan buang sampah sembarangan, paling tidak jangan buang kulit pisang di jalan karena bisa membuat orang tergelincir. Tapi sayangnya, saya ingat bahwa lingkungan sekolah saya tidaklah menjadi bentuk nyata ajaran-ajaran seperti itu. Ruang guru seringkali saya dapati diramaikan dengan pemandandangan sisa makanan di meja mereka, kemasan kue, kulit buah, yang tak segera dibereskan usai para pendidik itu bersantap. Mereka duduk berbincang-bincang, sampai jam istirahat selesai. Ketika bel tanda waktu istirahat selesai, mereka pun kembali mengajar di kelas. Selanjutnya datanglah petugas kebersihan sekolah mengambil piring bekas mereka, membuang sampah mereka...
Nah, sekarang kembali kepada kita sebagai orang tua. Bila kita tak memperlihatkan kepedulian akan efek 'kemalasan' kita pada orang lain, seperti mengupas jeruk atau pisang dan membiarkannya tergeletak begitu saja di tempat terdekat di mana kita makan, untuk selanjutnya menunggu orang lain yang membereskannya, maka ini jadi contoh buat anak-anak kecil di sekitar kita untuk belajar tak berempati pada orang lain, belajar tak memikirkan lebih jauh efek kelakuan kita.
Sumber : http://mendidikanak.blogspot.com/2006/07/pendidikan-usia-dini-anak-jepang.html
My Twitter
Beranda
Denting Inspiratif
"Menthok-menthok":
"Kupu Kuwi":
Nahl-famili's Readers Community
Arsip
Rabu, 22 Juli 2009
Pendidikan Usia Dini Anak Jepang
Diposting oleh
Keluarga Trisnadi-Aisyah
di
15.47
0
komentar
Kategori: Angkringan
Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung
Pdpersi, Jakarta - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan baca, tulis dan hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, hal itu juga dikhawatirkan akan berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak bahkan
termasuk dalam tindak penganiayaan (abuse).
Demikian diungkapkan Seto di Jakarta, kemarin. Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas) No 20 tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan titik berat pembelajaran moral, nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Semua nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui metode pembiasaan.
UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai sarana persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan pembelajaran huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam kurikulum TK. Sehingga,
pendidikan calistung dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap aturan. Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di sebagian besar TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan mayoritas SD yang mengharuskan calon siswanya telah menguasai calistung.
"Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin anaknya dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk SD. Inilah lingkaran kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak sebagai korban.
Akhirnya TK bukan menjadi sarana belajar sambil bermain, tapi belajar sambil menangis," kata Seto yang juga anggota Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah belum siap diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani target, melainkan diberi kesempatan bermain sepuas-puasnya. Sementara, pembelajaran
tentang nilai-nilai kehidupan diberikan dengan metode tematik yang mudah difahami. Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang dianggap kini terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 2006
mendatang BSNP akan mengeluarkan regulasi yang merombak sistem pendidikan kelas satu hingga tiga SD. Aturan itu akan merubah sistem pembelajaran berpola tematik, seperti yang diterapkan pada murid TK. Pembahasan
pelajaran akan disederhanakan, disesuaikan sengan usia anak yang masih belia.
Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan rencananya tahun depan akan mulai disosialisasikan. Keputusan untuk merombak aturan tersebut didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan kurikulum yang saat ini
berlaku. Kurikulum saat ini dinilai terlalu berat, disertai target dan materi yang tidak sesuai dengan usia anak. "Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak. Padahal, sekolah dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita lupakan," ujar Seto.
Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan bernyanyi dan keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet serta angka. Bahkan,
anak-anak yang masih berusia empat sampai lima tahun itu juga diharuskan berlatih menuliskannya dalam buku tulis seperti halnya murid SD.
Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya telah terbiasa membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam bersekolah di TK, dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, mereka berlatih menulis dan membaca
hingga merangkainya dalam kata. Begitu pula dengan angka, selain menuliskannya, mereka juga dilatih pertambahan dan pengurangan sederhana.
"Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di sekolah juga belajar," kata Alma, seorang murid. Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada anaknya karena kerap harus bersusah payah menghapal
dan menulis. Padahal, memegang pinsil saja, merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang belum genap lima tahun. Kendati begitu, Nani mengaku tak berani menyatakan keberatannya pada pihak sekolah. "Kalau dia tidak bisa
baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD yang ada di sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang mendaftar. Ada juga yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata Nani.
Seorang guru yang mengajar di sebuah TK di Bandung mengaku dirinya kerap harus mengelus dada melihat perjuangan yang harus dilalui anak didiknya saat diajari calistung. Padahal, untuk memusatkan perhatian saja,
murid-muridnya masih kesulitan. "Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih besar. Saya sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah. Padahal, dulu tidak begini, murid saya yang saya ajar
sepuluh tahun lalu tidak belajar calistung tapi sekarang sudah jadi orang semua," kata guru yang enggan disebut namanya tersebut.
Sumber : http://adnafathani.multiply.com/journal/item/45/Anak_TK_Belajar_Huruf_Angka_Penganiayaan_Terselubung
Diposting oleh
Keluarga Trisnadi-Aisyah
di
15.36
0
komentar
Kategori: Pendidikan